Tanpa Penjaringan Aspirasi Warga, Maka Data Apa yang Dipakai dalam Musrenbang?

Musrenbang adalah forum perencanaan (program) yang diselenggarakan oleh lembaga publik, yaitu pemerintah desa, bekerjasama dengan warga dan para pemangku kepentingan lainnya. Musrenbang yang bermakna akan mampu membangun kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan cara memotret potensi dan sumber-sumber pembangunan yang tersedia baik dalam maupun luar desa.

Musrenbang desa adalah forum dialogis antara pemerintah desa dengan pemangku kepentingan lainnya untuk mendiskusikan dan menyepakati program pembangunan yang dapat memajukan keadaan desa. Dalam Musrenbang desa, pemerintah desa dan berbagai komponen warga bekerjasama memikirkan cara memajukan desanya melalui program pembangunan desa.

Pembangunan tidak akan bergerak maju apabila salah satu saja dari tiga komponen tata pemerintahan (pemerintah, masyarakat, swasta) tidak berperan atau berfungsi. Karena itu, Musrenbang juga merupakan forum pendidikan warga agar menjadi bagian aktif dari tata pemerintahan dan pembangunan.

Kegiatan perencanaan membutuhkan data/informasi yang memadai untuk dapat menyusun program kegiatan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan dan persoalan yang terjadi di desa. Salah satu cara untuk menyusun data/informasi yang baru (up to date) adalah melakukan kajian partisipatif desa atau yang dikenal dengan sebagai participatory rural appraisal (PRA).

Kajian PRA yang lengkap dan menyeluruh sebenarnya dukup dilakukan saat melaksanakan Musrenbang penyususnan RPJM Desa. Apabila PRA dilakukan setiap tahun, akan cenderung menjadi pengulangan karena kebanyakan data/informasi yang dihasilkan masih tetap sama dengan kajian yang sudah pernah dilakukan tahun lalu. Untuk Musrenbang tahunan, juga tetap diperlukan data/informasi sebagi bahan penyusunan rencana (penyusunan RKP Desa) dengan cara melakukan cek ulang hasil PRA yang pernah dilakukan. Juga bisa digunakan kegiatan lebih sederhana untuk memperbaharui (update) data/informasi desa, misalnya dengan mengadakan pertemuan atau diskusi dengan warga, diskusi kelompok sektoral, lokakarya desa (setengah hari), tanpa harus mengulang-ulang proses PRA yang sama persis dengan tahun sebelumnya.

Pertemuan atau diskusi dengan warga menjadi forum yang sangat strategis bagi warga maupun pemerintah desa ketika akan menyusun perencanaan pembangunan desa. Artinya momen ini harusnya menjadi kebutuhan yang tentunya tidak bisa dilewatkan begitu saja tatkala desa mengharapkan rencana program yang akan disusun ditujukan untuk menjawab kebutuhan dan persoalan yang ada di masyarakat. Akan tetapi ketika proses penting dan strategis semacam ini kemudian dilewatkan, maka pertanyaan besarnya adalah dasar apa yang kemudian digunakan pemerintah desa dalam menyusun rencana program pembangunan untuk setahun ke depan?

Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di salah satu desa di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, proses penjaringan aspirasi kepada warga di Padukuhan-Padukuhan atau yang biasa disebut dengan Musyawarah Dusun (Musdus) nyatanya tidak dilakukan. Dalam menggelar musyawarah perencanaan pembangunan desa tahun 2018 (Musrenbang Desa), pemerintah Desa tidak memalui proses Musdus terlebih dahulu. Maka apa yang digunakan sebagai dasar penyusunannya? Pertanyaan tersebut sempat saya lontarkan ke beberapa pengurus TIFA dan kasie Perencanaan di Desa tersebut.

Usut punya usut ternyata data dan informasi yang digunakan sebagai dasar penyusunan rencana program pembangunan oleh pemerintah desa tersebut adalah rencana kerja pemerintah Desa (RKP Desa) tahun sebelumnya. “Kemarin sebelum dilakukan Musrenbang, memang proses penjaringan aspirasi warga dari tingkat Padukuhan (musdus). Jadi data yang dipakai adalah program kerja yang tahun kemarin belum terlaksana itu kemudian dituangkan lagi dalam RAPBDesa di tahun 2018 ditambah dengan beberapa usulan program tambahan dari beberapa kader perempuan atau lembaga yang terlibat dalam Musrenang”, ungkap Mbak Fitri dalam obrolan Senin siang, 13 November2017. 

Solo, 16112017

~Osh~

Iklan

Cegah Bullying, TIFA Karangmojo Lakukan Pendampingan ke Sekolah

Kenakalan anak didik di sebuah sekolah atau di dunia pendidikan adalah sebuah hal yang jelas tidak bisa dihindarkan. Yang bisa dilakukan oleh tenaga pengajar atau tenaga pendidik di sekolah dalam hal ini adalah Guru adalah memberikan pendidikan karakter pada anak agar si anak berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada di lingkungan sekolah dan bermasyarakat. Hal ini ditujukan untuk mencegah agar anak tidak berperilaku menyimpang atau melanggar norma dan nilai-nilai tersebut.

Jenis kenakalan yang dilakukan oleh anak-anak di lingkungan sekolah pun sangat beragam jenisnya, serta beragam kadar ato tingkat kenakalannya. Mulai dari yang hanya sekedar menggangu temannya dengan mengambil alat-alat tulisnya teman, mengejek dengan nama yang bukan nama aslinya, mencubit, menjegal temannya yang sedang berjalan, sampai dengan mencuri uang, barang-barang milik temannya bahkan milik gurunya sendiri.

Ketika anak melakukan sebuah kesalahan perilaku di lingkungan sekolah, yang seringkali dilakukan oleh Guru selaku pendidik di sekolah sebagai respon adalah memberikan sanksi kepada si anak. Guru seringkali kurang melakukan pendalaman kasus atau kejadian yang menimpa atau dilakukan si anak. Padahal ketika pendidik mau sedikit saja meluangkan waktu untuk melakukan pendalaman motivasi apa yang menyebabkan si anak melakukan sebuah kenakalan itu, maka tentu saja anak tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Anak yang melakukan missbehave (sebuah kesalahan) biasanya adalah anak-anak yang memiliki kisah yang kurang mengenakkan secara psikologis. Diantaranya adalah anak yang pernah di bully oleh teman-teman nya di luar sekolah misalnya dan atau pernah mendapatkan bullying oleh anggota keluarganya sendiri. Dampak yang paling sering muncul kemudian adalah si anak cenderung melakukan pembalasan dengan berbuat hal yang sama kepada teman lainnya yang dia pandang lemah. Hal yang demikian ini, maka sebenarnya anak bukanlah pelaku kekerasan atau kenakalan, tetapi justru dialah korban yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari para pendidik di sekolah.

Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah Harus Menyenangkan Bagi Anak 

Tim Informasi dan Advokasi (TIFA) Desa Karangmojo sebagai salah satu kelompok perempuan yang mendedikasikan diri sebagai sumber data dan informasi perempuan dan anak di tingkat desa, ternyata cukup tanggap dengan kondisi yang terjadi di salah satu sekolah dasar di Desa tersebut. Pasalnya ketika mendengar adanya kasus pencurian yang dilakukan oleh salah seorang anak didik di SD berbasis agama di wilayahnya, salah satu pengurus TIFA yang kebetulan juga seorang tenaga pendidik langsung melakukan koordinasi dengan pendamping dari YSKK.

Lantaran prihatin mendengar bahwa si anak terancam dikeluarkan dari sekolahnya, maka pengurus TIFA berinisiasi untuk melakukan kunjungan ke pihak sekolah. Kunjungan yang direncanakan itu dengan maksud untuk memperjelas duduk perkara dan kabar berita yang didengarnya. Kemudian tujuan yang selanjutnya adalah TIFA ingin memberikan masukan mengenai penanganan anak atau siswa yang bermasalah tersebut agar jangan sampai dikeluarkan dari sekolah. Mengingat bahwa memperoleh layanan pendidikan bagi anak itu adalah hak setiap anak terlepas apapun latar belakangnya.

Gayung pun bersambut, setelah sekolah mendengar bahwa di Desa Karangmojo ternyata ada organisasi atau kelompok yang bergerak di isu perempuan dan anak, maka tanpa menunggu lama pihak sekolah langsung mengirimkan surat kepada TIFA Karangmojo. Isi surat tersebut adalah permohonan kepada TIFA untuk memberikan pendampingan kepada sekolah agar karakter anak didik di sekolah tersebut lebih baik ke depannya. Pun demikian, pengurus TIFA pun juga menyambut baik permohonan tersebut.

IMG-20171117-WA0007

Ketua TIFA Desa Karangmojo Berbagi Pengalaman kepada Guru-guru SD Muhammadiyah 1 Karangmojo mengenai Sekolah yang menyenangkan.  

Berbekal dengan pengalaman menerapkan beberapa hal atau kegiatan positif di sekolah tempat beliau mengampu serta atas kesepakatan bersama pengurus, maka jadilah pendampingan ke sekolah berbasis agama tersebut dilakukan pada hari Selasa, 7 November 2017. Kegiatan tersebut diikuti oleh 3 orang pengurus TIFA (ketua, sekretaris, dan anggota) dan diikuti oleh kepala sekolah dan 3 orang pendidik di sekolah tersebut. “Ketika anak melakukan tindakan yang melanggar aturan misalnya tidak memperhatikan guru saat pelajaran, atau mengganggu teman nya ketika pelajaran, bisa saja si anak merasa bosan dengan apa yang disampaikan dengan guru, atau ruang kelas yang membosankan atau kondisinya memang kurang nyaman untuk belajar. Maka memang sebagai guru sebaiknya harus peka dengan psikologisnya anak didik”, ujar Bu Kuruna selaku ketua TIFA Karangmojo. 

“Sekolah adalah tempat belajar dan bermain bagi anak didik, jadi sebagai guru kita janganIMG-20171117-WA0005 hanya selalu menuntut anak harus mau dan bisa menerima pelajaran atau materi yang kita ajarkan. Tetapi kita juga harus bisa menciptakan suasana dan kegiatan belajar mengajar yang menarik bagi anak, biar mereka tidak cepat bosen dan selalu tertarik untuk datang ke sekolah”, ungkap Bu Rurun (sapaan akrabnya) dalam pemaparan berbagi pengalaman dengan beberapa guru di SD Muhammadiyah 1 Karangmojo.

 

Solo, 09112017

~Osh~

 

 

Berperspektif Gender Akankah Selalu Linear Dengan Pro Gender?

Ketika berbicara mengenai ‘gender’, maka hal pertama yang terlintas dalam pikiran sebagian orang adalah perempuan. Gender, bagi sebagian masyarakat secara umum pastilah seringkali dikaitkan dengan apa-apa yang berbau dengan perempuan. Tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, tetapi termasuk juga perempuan.

Selain itu, hal kedua yang terlintas dalam pikiran masyarakat lagi adalah jenis kelamin. Sebagian orang memahami bahwa yang dimaksudkan dengan gender itu adalah jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender, kata yang simpel, gampang diucapkan, tetapi nyatanya sulit untuk dipahami bagi cukup banyak orang. Meskipun sebenarnya masyarakat kita sudah sangat terbiasa melakukan hal-hal yang berbau gender, tapi nyatanya pemahaman tentang gender itu sendiri masih seringkali keliru.

Secara singkat, gender adalah konstruksi sosial masyarakat yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Hanya itu? Yaaps hanya sesimpel itu sebenarnya. Lantas apa yang perlu dibahas lagi soal Gender, kalau ternyata maknanya hanya sesimpel itu?

….

 

 

Selain Kuantitas, Kualitas Perempuan Juga Menunjukkan Bukti Perkembangan PUG

Mendekati akhir tahun, maka seluruh SKPD serta pemerintah dari pusat hingga level desa akan sibuk mempersiapkan berbagai dokumen. Mulai dari dokumen RKP, telaah RPJMDes serta penyusunan RAPBDes untuk periode tahun yang akan datang. Maka dari itu tak heran kalau kemudian seluruh perangkat desa kader perempuan mulai dari tingkat RT, RW, Padukuhan, hingga desa pun sibuk dengan berbagai kegiatan administratif.

Hal ini senada dengan yang terjadi di Desa Kalitekuk, Kecamatan Semin, Gunungkidul. Pada akhir bulan Agustus 2017 yang lalu Desa ini menggelar musyawarah Desa (Musdes) membahas mengenai Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) tahun anggaran 2018. Dalam Musdes tersebut banyak elemen masyarakat yang dilibatkan. Pelibatan masyarakat ini dilakukan sebagai wujud partisipasi dalam penyusunan rencana pembangunan Desa Kalitekuk yang akan dilaksanakan di tahun 2018 yang akan datang.

Berbagai elemen masyarakat yang dilibatkan dalam musdes diantaranya adalah perwakilan dari karang taruna, tokoh masyarakat dan tokoh agama, perangkat desa, BPD, organisasi kemasyarakatan (KWT, Gapoktan, dan PKK). Pelibatan perempuan dalam forum yang sangat strategis di level desa ini lebih dititik beratkan pada unsur PKK. Hal ini dikarenakan kader PKK sudah mencakup pada beberapa aspek sesuai dengan pokja yang ada di tubuh kelembagaan PKK serta mencakup kewilayahan di yakni di smua padukuhan yang ada di Desa tersebut.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan pengarusutamaan gender di berbagai level pemerintahan memang sudah semakin menunjukkan peningkatannya. Hal ini dilihat dari indikator minimum yakni pada aspek partisipasinya. Keterlibatan perempuan dalam forum-forum strategis di Desa maupun Daerah sudah mulai meningkat cukup siginifikan. Sebagai contoh di Desa Kalitekuk sendiri, kehadiran perempuan dalam musdes kemarin mencapai separuh dari total peserta yang hadir. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua TP PKK Desa Kalitekuk pada obrolan Rabu, 13 September 2017 siang kemarin, “kemarin tumben banyak banget yang dateng mbak ibu-ibunya. Kalo cuma separo ya ada itu kemarin”, ungkap bu Murtini.

Meskipun demikian, siginifikansi lainnya yang tak kalah penting untuk menjadi tolak ukur perkembangan PUG di pembangunan Desa adalah kualitas keterlibatan perempuan dalam forum-forum strategis. Dalam artian, ketika perempuan terlibat dalam Musdes ataupun forum-forum strategis lainnya di tingkat Desa harus mampu menunjukkan kualitas dirinya. Agar perempuan tidak hanya dianggap sebagai penggugur kewajiban pemerintah dalam memenuhi kuota 30% forum Musdes saja, tetapi melalui usulan-usulan, ide serta gagasan-gagasan yang cemerlang maka keberadaan perempuan semakin diperhitungkan.

 

Solo, 18092017

~Osh~

 

Konflik Internal Kelompok,Pemicu Utama Fakumnya Sebuah Kelompok

Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua individu atau lebih yang telah melakukan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga diantara individu tersebut sudah terdapat pembagian tugas, struktur, serta norma-norma tertentu.

Sedangkan kelompok perempuan adalah kesatuan yang terdiri dari dua perempuan atau lebih dalam suatu tempat yang telah melakukan kegiatan bersama yang cukup intensif dan teratur sehingga terdapat pembagian tugas atau peran, struktur kelompok serta norma-norma tertentu yang disepakati bersama.

Perempuan sebagai bagian dari masyarakat dan juga sebagai salah satu sasaran pembangunan pemerintah,

 

 

Sistem Satu Data, Minimalisir Ketimpangan Sosial

Kemiskinan dan kesenjangan merupakan permasalahan yang dihadapi oleh setiap pemerintah daerah dan baik negara manapun. Kondisi ini membuat target penurunan angka kemiskinan menjadi sasaran utama dalam Millenium Development Goals (MDGs). Banyak negara yang telah menggelontorkan dana besar untuk penurunan kemiskinan, namun tidak memberikan efek yang siginfikan terhadap penurunan angka kemiskinan di negara tersebut.

Meskipun tidak sedikit program pemerintah yang dicanangkan untuk menekan atau menanggulangi kemiskinan di Indonesia, namun faktanya angka kemiskinan masih saja tinggi. Banyak faktor tentnya yang menyebabkan terjadinya ketidakefektifan dan inefisiensi penanggulangan kemiskinan. Diantaranya, tolak ukur kemiskinan hanya dipandang sebagai masalah ekonomi (pendapatan) saja. Indikator yang dipakai masih menggunakan pendekatan konsumsi kalori.

Selain itu, ada kecenderungan program-program kemiskinan yang dibuat pemerintah pusat dengan mengeneralisir setiap daerah sama. Padahal masing-masing daerah memiliki karakteristik kemiskinan yang berbeda. Karakteristik kemiskinan Kulonprogo dengan Kabupaten Bantul atau Gunungkidul tentunya berbeda. Untuk membuktikan hal ini tentunya harus dibuktikan dengan sebuah metode yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi.

Kemiskinan masih menjadi persoalan pelik bagi Indonesia meski hal yang sama terjadi hampir di semua negara berkembang di dunia. Berbagai program dan kebijakan yang telah dilakukan belum mampu mengatasi masalah kemiskinan di negeri ini. begitu mudah dan nyata potret kemiskinan dijumpai. Meski pertumbuhan ekonomi melesat, namu Indonesia masih saja diselimuti oleh kemiskinan yang dahsyat.

Faktor yang cukup

………………………..

“Simpan Pinjam Masih Mendominasi Orientasi Koperasi”

Berdasarkan data yang masuk di Disperindag & Koperasi Kabupaten Gunungkidul, jumlah koperasi yang sudah berbadan hukum sampai dengan pertengahan 2017 ini adalah sebanyak 256 koperasi. Baik koperasi simpan pinjam maupun serba usaha.

Dari 256 koperasi tersebut, sebanyak 40 koperasi tercatat sebagai koperasi serba usaha. Meskipun demikian faktanya, di Kabupaten Gunungkidul ini koperasi yang memang benar-benar menjalankan serba usaha, jumlahnya masih tergolong kecil. “Pasalnya, meskipun di badan Hukumnya berbunyi KSU, tetapi usaha yang berjalan dan yang dijalankan hanyalah simpan pinjamnya saja”, ujar Pak Sigit. 

Bahkan menurut pantauan Disperindagkop dan ESDM, sekarang ini mulai banyak koperasi yang secara neraca sudah mulai kurang sehat. Bahkan beberapa koperasi di Gunungkidul sudah beku. “Ini menjadi PR bagi Bidang Koperasi untuk melakukan pendampingan lebih giat lagi agar poros kegiatan koperasi yang ada di gunungkidul tidak hanya berkutat pada simpan pinjam saja”, ungkap Pak Sigit. “Hal ini agar tujuan berkoperasi bisa tercapai yakni sebagai soko guru perekonomian masyarakat”, imbuhnya. 

Informasi tersebut disampaikan Ketua Bidang Koperasi pada hari Senin, 17 Juli 2017 lalu di ruangannya dalam forum silaturahmi yang dilakukan pendamping dari YSKK sekaligus koordinasi terkait rencana kegiatan peringatan HarkopNas 2017 yang akan digelar di Kabupaten ini.

Solo, 20072017

~Osh~

Target Pasar Menentukan Capaian Penjualan Produk

Jumat, 14 Juli 2017 Yayasan Satu Karsa Karya bersama dengan sepuluh (10) lembaga PAUD di Kecamatan Weru, Sukoharjo menggelar PAUD EXPO. Kegiatan ini digelar di Aula Kecamatan Weru, Sukoharjo. Tujuan Expo ini adalah untuk mempromosikan 10 lembaga PAUD dampingan YSKK dalam rangka menjelang penerimaan peserta didik baru.

Guna meramaikan kegiatan tersebut, maka Koperasi Perempuan di Gunungkidul yang menjadi dampingan YSKK pun diberikan kesempatan untuk memamerkan produk makanan olahan yang dihasilkan. Hal ini jelas disambut baik oleh pengurus Koperasi Wanita Sekar Arum dan Karya Perempuan Mandiri yang kebetulan memang memiliki unit usaha dagang.

Tanpa berpikir dua kali, kesempatan ini langsung diambil oleh kedua koperasi. Hal ini mengingat melalui expo itu diharapkan bisa jadi ajang promosi produk makanan olahan yang dihasilkan oleh kedua koperasi wanita tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan inilah salah satu cara yang digunakan oleh teman-teman koperasi wanita untuk mengenalkan produk olahan mereka. Meskipun seringkali hasilnya tidak sepadan dengan jarak ataupun sumber daya yang harus mereka keluarkan untuk mengikutinya.

Sebagaimana yang terjadi pada hari itu, hasil penjualan yang diperoleh Kopwan KPM dan Sekar Arum jauh dari ekspektasi awalnya. Penjualan yang dicapai hanya beberapa bungkus makanan saja dengan nominal tidak sampai lima puluh ribu rupiah (Rp 50.000,-). Hal ini lantaran sasaran atau target pasar yang dituju memang kurang begitu strategis. Pasalnya, peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah para orang tua murid atau orang tua calon murid. Dimana kebanyakan memang membawa serta anak-anak mereka yang masih balita.

Kenapa kurang strategis sebagai target pasar produk makanan olahan koperasi? Hal ini mengingat, mayoritas produk yang dihasilkan adalah hasil olahan pertanian dan perkebunan dalam bentuk kering atau ringan. Sementara, yang namanya anak balita tentunya akan lebih tertarik pada jenis makanan yang menarik secara bentuk.

 

Solo, 20072017

~Osh~

 

Pendataan Perempuan dan Anak Terhambat Oleh Kerja PKK yang Lamban

Meskipun waktu sudah mendekati akhir bulan di bulan Juli ini, ternyata pergerakan aktifitas kelompok perempuan di wilayah dampingan YSKK masih belum menunjukkan gregetnya. Khususnya adalah kelompok pos informasi perempuan dan anak tingkat desa di 7 Desa. Pasalnya pendataan perempuan dan anak yang disepakati bakal selesai di minggu ke-3 bulan Juli 2017 ini, sampai dengan hari ini masih belum ada yang tergarap. Salah satunya adalah desa Karangmojo.

Sebagaimana yang disampaikan oleh sekretaris TIFA Desa Karangmojo pada Rabu, 12 Juli 2017 yang lalu, “sampai dengan hari ini datanya memang belum masuk ke saya mbak, karena kemarin pas pertemuan kader itu ada rencana dari Sekretaris Desa mau dibuatkan form biar seragam dan nantinya akan digunakan sbg data desa juga”, ujar mbak Rohmi. “Tapi sampai saat ini belum ada info lebih lanjut karena form nya pun sampai sekarang juga belum dibuat”, imbuhnya.

Hal ini bertolak belakang dengan informasi yang saya peroleh di bulan sebelumnya, yang mana data dasar anak dinyatakan sudah lengkap di pegang oleh kader kesehatan dan kader PKK. Maka dalam kesempatan silaturahmi kemarin, maka saya mengkonfirmasi beberapa informasi terkait dengan data perempuan dan anak yang akan didata oleh teman-teman TIFA. Diantaranya adalah mengenai tokoh atau personal yang berwenang atau selama ini memegang data-data tingkat desa dalam kepengurusan PKK desa.

Dalam struktur kepengurusan sebuah lembaga atau organisasi, ketua jelas memegang peranan yang sangat vital. Dimana ketua memiliki kewenangan penuh terhadap jalannya organisasi. Baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan program kerja, sampai dengan hal-hal administratif kaitannya dengan data, informasi, serta laporan keuangan dan laporan-laporan lainnya. Seorang ketua tentunya haruslah tau persis bagaimana kondisi lembaganya, mulai dari keanggotaan sampai denga keuangan dan sebagainya. Maka ketika seorang ketua tidak mengetahui seluk beluk atau kondisi lembaga atau organisasinya, jelas bisa dipastikan bahwa peran dan fungsi tidak berjalan dengan baik.

….

Solo, 19072017

~Osh~

Merajut Asa Guna Tegaknya Koperasi Sebagai Soko Guru Ekonomi

Koperasi sebagai salah satu soko guru perekonomian di Indonesia nyatanya masih jauh tertinggal jika dibandingan dengan soko guru lainnya, seperti swasta, BUMN. Padahal jika dibandingkan dengan soko guru ekonomi lainnya, koperasi memiliki peran yang cukup strategis dan potensi yang cukup besar. Meskipun demikian, keberadaan koperasi jelas dirasa sudah memberi manfaat bagi masyarakat khususnya bagi pengurus ataupun anggotanya. Pun demikian dengan koperasi wanita Sekar Arum yang bertempat di desa Semin, Kecamatan Semin, Gunungkidul.

Melalui koperasi, banyak manfaat yang kami rasakan, kami dapatkan. Diantaranya adalah banyak dapat ilmu baik mengenai pengelolaan keuangan, ilmu produksi makanan olahan. Dulu yang saya ketahui hanya mengenai pekerjaan rumah saja, perempuan itu yo cuma sibuk dengan urusan dapur, ngurus anak dan rumah, tetapi setelah masuk jadi anggota koperasi, terlebih sekarang jadi pengurus, saya jadi tahu bagaimana peluang perempuan untuk berkiprah di bidang yang lain di luar rumah tangga, khususnya peluang bisnis usaha bagi perempuan. Saya bisa dapat banyak ilmu dari koperasi, bisa tahu jaringan pemasaran produk-produk olahan lokal, ujar Mbak Desi (29).

Tentunya banyak sekali manfaat dengan bergabungnya saya di koperasi. Mulai dari yang umum sampai dengan yang paling khusus itu semua saya rasakan dan saya dapatkan melalui koperasi. Dari yang umum, saya bisa punya pengalaman berorganisasi, punya pengalaman diskusi dengan kelompok-kelompok perempuan yang lainnya, dapat kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan jadi kapasitas diri saya jadi bertambah. Dulunya saya yang hanya di rumah, sibuk dengan kegiatan rumah tangga, tapi setelah gabung dengan koperasi, saya jadi punya banyak ilmu pengetahuan, tambah teman, tambah jaringan, tambah wawasan. Yang paling saya rasakan adalah saya tambah wawasan, tambah jaringan, dan tentunya jadi lebih percaya diri, dan jadi punya pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan itu yang utama, ujar Bu Niken (31).

Dengan bergabung ke koperasi, saya jadi belajar banyak hal mbak. Saya dapat banyak manfaat dari koperasi. Saya dapat banyak kenalan, banyak jaringan, mulai dari dinas, sampai koperasi-koperasi perempuan lainnya baik di lokal gunungkidul maupun luar gunungkidul. Saya dapat banyak ilmu khususnya di bidang pembuatan makanan olahan dan pemasarannya. Dengan berkoperasi, saya akhirnya juga bisa jadi anggota dari asosiasi UMKM Kabupaten Gunungkidul. Jadi kalau kita ada kesulitan bahan baku produksi atau pemasaran, melalui kelompok itu akhirnya saya jadi terbantu, ujar Bu Karyati (Ketua Kopwan Sekar Arum).

Harapan kami ke depannya, koperasi Sekar Arum ini akan lebih berkembang lagi. Koperasi bisa menjadi wadah nyata bagi perempuan desa Semin khususnya bagi anggota koperasi Sekar Arum. Koperasi bisa menjadi lebih bermanfaat bagi anggota baik secara permodalan maupun sebagai wadah yang mampu menampung produk dari para anggota koperasi sehingga mendorong peningkatan ekonomi rumah tangga para anggotanya.

“Harapan kami untuk pemerintah desa, harapannya desa harus lebih memperhatikan perempuan, dan khususnya terhadap koperasi, harus lebih peduli demi meningkatkan ekonomi produktif perempuan khususnya di Desa Semin ini. Sebagaimana yang pernah diutarakan di tahun-tahun sebelumnya, pemerintah desa berkomitmen akan memberikan fasilitas kios untuk pemasaran produk makanan olahan dari perempuan semin khususnya anggota koperasi. Maka harapan kami semoga komitmen itu bisa diwujudkan secara nyata agar koperasi Sekar Arum benar-benar bisa menjadi soko guru perekonomian perempuan Semin”, ungkap Pengurus Kopwan Sekar Arum.

Untuk bisa terus mengawal komiten tersebut, kami butuh selalu yang namanya pendampingan. Untuk itu, kami juga berharap YSKK akan terus memberikan pendampingan bagi kami ke depannya. Kami berharap YSKK terus memberikan bimbingan dan dampingan kepada kami baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dari YSKK kami bisa mengenal jaringan kelompok, mengenal orang-orang dinas, dan masih banyak lagi.

 

Solo, 19072017

~Osh~