Ada Tidaknya Pendamping, Si Repi Harus Tetap Jalan

Menjelang akhir tahun, bulan Desember ini pendampingan program Bank Sampah di Dusun Sukorejo, Duyungan, Sidoharjo, Sragen akan segera berakhir. Tetapi tidak dengan semangat para pengurus Si Repi. Meskipun pendampingan dari pendamping program akan segera usai, pengurus masih tetap giat dalam bekerja.

Terbukti dalam acara koordinasi pengurus yang dilaksanakan pada hari Jumat, 07 Desember 2018 lalu, pengurus menyatakan harapan dan komitmen bersamanya. Pasalnya dengan tegas, pengurus berharap meskipun nanti sudah tidak ada pendampingan Bank Sampah Si Repi tetap berjalan. Tetap melakukan sosialisasi tentang pengelolaan sampah dan tetap memberikan layanan tabungan sampah pada nasabah.

“Kita sudah didampingi dan diajari hingga akhirnya bank sampah Si Repi terbentuk dan berjalan sampai harini. Dari yang awalnya kita nggak tau apa-apa tentang bank sampah sampai akhirnya sekarang kita bisa mengelolanya dan bahkan kita diminta jadi narasumber di desa-desa lain, ini luar biasa. Jadi meskipun nanti Mbak Oshin udah nggak mendampingi lagi, saya mohon pengurus tetap kompak tetap bekerja memberikan layanan kepada masyarakat ya…”, ujar Bunda Atik (sapaan akrab Direktur Si Repi). 

 

 

 

Solo, 12122018

~Osh~

Iklan

Komitmen Pengurus Si Repi Semakin Kuat

Bulan Desember merupakan penghujung tahun. Di penghujung tahun ini, tepat 7 (tujuh) bulan Bank Sampah Si Repi Dusun Sukorejo, Duyungan, Sidoharjo, Sragen berdiri. Sejak berdiri bulan Mei 2018 yang lalu, bank sampah Si Repi sudah berhasil menyelenggarakan layanan tabungan sampah 11 (sebelas) kali.

Layanan tabungan sampah ke-11 dilakukan pada hari Minggu, 09 Desember 2018 kemarin dari jam 08.00 – 12.00 WIB bertempat di sekretariat Si Repi Dusun Sukorejo RT 23. Sebanyak 30 nasabah hadir untuk menabung sampah anorganiknya ke Si Repi. Sedangkan jumlah sampah yang masuk yakni sebanyak 743 Kg.

Jumlah tersebut memang tidak sebanyak biasanya dimana rata-rata jumlah nasabah yang masuk tiap layanan yakni sebanyak 40 an orang. Sedangkan sampah yang masuk rata-rata berkisar antara 800 Kg – 1 Ton sampah dengan berbagai jenis. Hal ini dikarenakan bulan ini memang sedang musimnya para petani untuk menanam padi.

Mayoritas warga Dusun Sukorejo yang bermata pencaharian sebagai petani, membuat mereka lebih mengutamakan kesibukan mereka di sawah ketimbang harus membuang waktu untuk memilah dan menyetorkan sampah mereka ke bank sampah. Meskipun demikian, sampah yang sudah mereka kumpulkan di rumah biasanya akan ditabung ke bank sampah di periode timbangan berikutnya.

 

Solo, 12122018

~Osh~

Si Repi Mulai Banyak Digandeng Untuk Program Pengelolaan Sampah di Sekolah

Pelan tapi pasti, Bank Sampah SI Repi (Resik Nguripi) mulai banyak didengar dan dikenal nama dan kiprahnya dalam mengelola sampah anorganik menjadi tabungan nasabahnya. Tidak hanya kalangan masyarakat saja, tetapi sekolah-sekolah pun mulai mendekat dengan Bank Sampah ini.

Beberapa pekan yang lalu ada salah satu tenaga pendidik di salah satu sekolah Madrasah di Kecamatan Sidoharjo, Sragen yang menghubungi salah satu pengurus SI Repi. Mendasar dari info yang diperolehnya, bahwa di Dusun Sukorejo ada sebuah bank sampah yang bisa menerima sampah anorganik terutama sampah plastik, pendidik ini lantas dengan cepat berkomunikasi dengan pengurus.

Perlunya adalah si pendidik ingin bisa kerjasama dengan Bank Sampah Si Repi mengenai sampah plastik yang setiap hari dihasilkan dari aktivitas konsumsi siswa siswi di sekolahnya yakni di Madrasah Ibtida’iyah Negeri (MIN) 9 Kepatihan, Sidoharjo, Sragen. Karena banyaknya agenda internal di Bank Sampah, sehingga pengurus belum bisa langsung menanggapinya.

Akhirnya hari Selasa, 4 Desember 2018 kemarin pengurus (Atik, Sukarni, Suparni) menindaklanjuti permintaan itu dengan  mendatangi sekolah ditemani dengan pendamping program (Oshin). Pada kesempatan itu, pengurus menyampaikan sedikit ulasan tentang sampah dan bagaimana memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Seusai memberikan sedikit penjelasan serta mengkonfirmasi jenis kerjasama yang akan dijalin dengan Bank Sampah SI Repi yakni apakah akan jadi nasabah atau hanya mitra, pengurus lantas melakukan pengepakan dan penimbangan sampah. Setelah selesai penimbangan dilanjutkan dengan pembayaran uang sampah karena sekolah ingin sampah nya dibeli putus atau tidak ditabung. Maka dengan demikian Sekolah yang sudah bermitra dengan SI Repi kembali bertambah 1 lagi.

 

Solo, 06122018

~Osh~

Si Repi Semakin Giat Dalam Memberikan Layanan

Dalam kurun waktu tujuh (7) bulan selepas pendirian Bank Sampah Si Repi (Resik Nguripi), Dusun Sukorejo, Duyungan, Sidoharjo, Sragen telah memiliki aset yang terbilang lumayan. Dari hasil timbangan sampah anorganik para nasabah yang kemudian di tabung di Si Repi tentunya.

Dari empat (4) program yang dicanangkan oleh pengurus Bank Sampah Si Repi, memang baru 2 program yang bisa dijalankan secara rutin. Yakni program layanan tabungan sampah dan program warung hidup serta penataan lingkungan Sukorejo.

Minggu, 11 November 2018 kemarin adalah jadwal Si Repi membuka layanan tabungan sampah bagi para Nasabah. Jadwal ini maju seminggu lebih cepat dari yang seharusnya tanggal 18 November 2018. Awalnya ada beberapa pengurus yang kurang sepakat untuk memajukan jadwal ini. Alasannya, kemungkinan bakal hanya sedikit nasabah dan sampah yang masuk ke Si Repi karena baru dua (2) minggu pasca penimbangan sampah diakukan.

Mengingat akan adanya kunjungan dari tim video PT. JAPFA Comfeed Indonesia Tbk.yang akan datang untuk meliput kegiatan peninmbangan sampah di Bank Sampah Si Repi maka mau tidak mau memang tetap harus diajukan jadwalnya. Alhasil, jumlah nasabah dan sampah yang masuk ternyata tidak cukup kalah dengan penimbangan-penimbangan sampah sebelumnya.

Hari itu, jumlah sampah yang masuk ada sebanyak 1,2 ton sedangkan nasabah yang masuk ada 36 orang dan 1 kelompok bank sampah dari Desa Sribit. Jumlah ini lantas seketika mematahkan kekhawatiran beberapa pengurus di forum rapat rutin pengurus awal bulan yang lalu. Mengingat akan ada peliputan dan pengambilan gambar serta video bank sampah, maka akhirnya keputusan pun bulat diambil.

Pengurus akhirnya sepakat untuk memajukan jadwal dan dengan penuh semangat, pengurus begitu giat memberikan layanan tabungan sampah kepada para nasabah dan masyarakat. Minggu itu, selain dari tim video PT. JAPFA Comfeed Indonesia Tbk. jakarta, hadir juga tim dari Program Inovasi Desa (PID) Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen.

 

Solo, 16112018

~Osh~

Bisa Karna ‘Dipaksa’

Merubah habbit atau kebiasaan memang bukan perkara yang mudah. Tetapi bukan berarti tidak bisa untuk dirubah. Kebiasaan disini, tidak selalu mengenai kebiasaan buruk saja tetapi juga kebiasaan baik. Ketika sesorang sudah terbiasa melakukan sesuatu hal secara berulang-ulang dan dalam kurun waktu yang sudah cukup lama, maka tantangannya jelas tidak mudah.

Sebagai contohnya adalah kebiasaan jam pelaksanaan kegiatan warga, seperti yang terjadi di Dusun Sukorejo. Kebiasaan yang sudah lama ada yakni pertemuan warga baik karangtaruna, forum ibu-ibu maupun forum bapak-bapak, selama ini dilakukan pada waktu malam hari. Bagi warga setempat ini memang dianggap biasa karena sudah berjalan cukup lama.

Kebiasaan tersebut lantas menjadi kurang pas untuk terus diterapkan tatkala harus berkaitan dengan keterlibatan pihak-pihak lain yang berasal dari luar Sukorejo. Semenjak ada program bank sampah di Dusun Sukorejo yang proses jalannya didampingi oleh konsultan yang berasal dari luar Sukorejo, habbit tersebut lantas menjadi salah satu yang harus dirubah.

 

Solo, 07112018

~Osh~

 

Pelan Tapi Pasti, Lingkungan Sukorejo Mulai Tertata

Semangat yang terus dipompa akan selalu menunjukkan geloranya. Pun demikian dengan semangat yang terus disemarakkan diantara orang per orang dalam sebuah kelompok. Maka dengan saling menguatkan, saling menyemangati satu sama lain akan mampu menjaga persatuan dan kesatuan kelompok. Selain itu juga akan mampu meningkatkan solidaritas antar pengurus di dalamnya.

“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, ungkapan inilah yang pas untuk menggambarkan aktivitas pagi sampai dengan siang itu, Minggu, 04 November 2018 yang lalu. Dimana para pengurus Bank Sampah Si Repi (Resik Nguripi) dusun Sukorejo, Duyungan, Sidoharjo, Sragen, bersama dengan tokoh masyarakat bahu membahu menata lingkungan Sukorejo.

Kegiatan ini merupakan kesepakatan bersama dalam rapat rutin pengurus yang diselenggarakan pada hari Kamis, minggu sebelumnya. Minggu pagi setelah pengurus berkumpul, maka dengan sigap mereka pun langsung berbagai peran. Sebagian pengurus bertugas mengerjakan penanaman di halaman sekretariat Si Repi, sebagian lagi berbondong-bondong mengambil tanah, pupuk dan media tanam untuk kemudian dimasukkan ke dalam bis beton sebagai pot tanaman. Sedangkan untuk bapak-bapak melakukan pengecatan pot tanaman.

Meskipun awalnya keberadaan pot ini menjadi kontroversi di masyarakat, tetapi dengan frekuensi semangat yang sama diantara pengurus yakni untuk mewujudkan lingkungan Sukorejo yang bersih, sehat, hijau dan lestari, akhirnya kegiatan ini terlaksana. IMG20181104091646Pengurus dengan penuh antusias menanam tanaman buah dalam pot (Tabulapot) di sepanjang jalan masuk kampung Sukorejo. Hasilnya, muka Dusun Sukorejo memang tampak lebih bersih, indah, dan rapi.

 

Solo, 07112018

~Osh~

Selesai Tepat Waktu, Buah Dari Kekompakan Pengurus

Minggu, 28 Oktober 2018 Bank Sampah Si Repi (Resik Nguripi) Dusun Sukorejo, Duyungan Sidoharjo, Sragen kembali menggelar layanan tabungan sampah bagi nasabah. Secara keseluruhan memang nampak biasa saja. Layanan dibuka dari jam 08.00 – 12.00 WIB.

Seperti biasa pula, sebelum layanan dibuka nasabah sudah mulai berbondong-bondong datang untuk menaruh sampahnya sekaligus mengisi daftar hadir untuk mengantri panggilan layanan. Selanjutnya mereka meninggalkan sampah mereka dan mempercayakan kepada pengurus untuk melakukan penimbangan tanpa harus mereka menunggui proses penimbangannya. IMG-20181028-WA0053

Yang membuat berbeda layanan hari itu adalah, ada 5 (lima) orang pengurus yang berhalangan hadir, sehingga jumlah sumberdaya yang bekerja pagi itu tentunya terbatas. Meskipun demikian, ternyata tak lantas menurunkan semangat dari pengurus lainnya. Pasalnya justru layanan tabungan sampah kali ini adalah layanan tercepat yang pernah digelar oleh Bank Sampah Si RePi.

Bagaimana tidak? Biasanya layanan tabungan sampah baru selesai diatas pukul 14.00 WIB bahkan lebih dari pukul 13.00 WIB, tapi kali ini bisa selesai sebelum waktu sholat dhuhur (pukul 11.30 WIB). Hal ini lantaran kedisiplinan masing-masing pengurus bisa berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Sehingga proses layanan di setiap posnya bisa berjalan dengan lancar. Mulai dari pendaftaran nasabah, penimbangan, pencatatan, pemilahan, sampai pengepakan.

Solo, 30102018

~Osh~

Sarpras Sebagai Penunjang Jalannya Sebuah Program

Sarana prasarana menjadi komponen penting penunjang sebuah program yang dicanangkan. Adanya sarana prasarana tentunya mampu memperkuat terwujudnya sebuah program yang sedang dikembangkan di sebuah masyarakat. Seperti halnya dengan program pengembangan warung hidup serta pengelolaan sampah di Dusun Sukorejo, Desa Duyungan, Sidoharjo, Sragen.

Sebagai sebuah pelopor gerakan pengelolaan sampah demi terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, hijau dan lestari, pengurus bank sampah mencanangkan beberapa program bagi masyarakat. Diantaranya adalah program warung hidup dengan metode penanaman tanaman sayur dengan media polibag.

Menindaklanjuti upaya pengembangan warung hidup bagi nasabah bank sampah Si Repi yang masih terbilang minim yakni hanya 10 unit setiap nasabah, maka menjadi penting untuk memikirkan pengembangan yang lebih tampak lagi. Kamis, 11 Oktober 2018 saya berkoordinasi dengan salah satu pengurus dan tokoh masyarakat untuk membicarakan mengenai sarana prasaran penunjang terwujudnya Sukorejo yang hijau dan lestari.

Sarana prasarana yang akan coba kita adakan adalah rak tanaman polibag dari bahan bambu. Dengan pengadaan rak tanaman ini diharapkan nantinya lingkungan Sukorejo terlihat lebih bersih, rapi, hijau dan lestari. Selain itu juga nantinya bisa menjadi wujud nyata bahwa program pengelolaan sampah untuk lingkungan yang bersih dan hijau.

 

 

Solo, 15102018

~Osh~

 

Si RePi Mulai Kembangkan Sayap ke Desa Tetangga

Beberapa bulan yang lalu, Bank Sampah Si RePi (Resik Nguripi) kedatangan sekumpulan orang dari desa sebelah. Orang-orang tersebut adalah perwakilan PKK dari Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. Kedantangan mereka ke sekretariat Si RePi tersebut tentunya bukan tanpa tujuan.

Tujuan mereka datang adalah ingin belajar mengenai sistem pengelolaan bank sampah dan tabungan sampah. Setelah menggali informasi yang cukup, mereka pun bergegas pamit. Mereka berharap sistem bank sampah ini bisa diterapkan juga di Desa mereka nantinya.

Keseriusan mereka ternyata memang diwujudkan nyata lewat tindakan bersama warga Sribit. Tidak berselang lama, ternyata para kader PKK dan Bapak-bapak tokoh masyarakat yang datang belajar tersebut langsung mensosialisasikan rencana pengembangan bank sampah kepada masyarakat. Pucuk dicinta ulampun tiba, begitulah kiranya ungkapan ini menggambarkan sambutan warga Dusun Kijon, Desa Sribit, Sidoharjo, Sragen.

Setelah warga bersepakatan untuk mengelola sampah anorganik mereka menjadi tabungan sampah di bank sampah, maka akhirnya pengurus lantas membuka layanan tabungan sampah. Namun sayangnya, belum siapnya kelembagaan bank sampah Dusun Kijon dan kesepakatan kerjasam dengan pengepul sampah, lantas menjadi sedikit hambatan pengurus.

Pasalnya, setelah sampah anorganik warga sudah terkumpul di sekretariat sementara bank sampah Dusun Kijon, nyatanya tidak kunjung diambil oleh pengepul meskipun sebelumnya sempat kontak dengan pengepul. Sehingga akhirnya pengurus memutuskan untuk coba komunikasi kembali dengan pengurus Si Repi untuk menjajagi peluang kerjasama.

IMG20181007121031Akhirnya pada hari Minggu, 07 Oktober 2018 perwakilan pengurus Si Repi bertandang ke dusun Kijon, Desa Sribit. Momen ini langsung dimanfaatkan oleh pengurus Si Repi untuk mengembangkan sayap agar secara keanggotaan dan jangkauan meningkat. Dengan berbekal daftar sampah beserta rincian harga serta aturan-aturan yang sudah berjalan di bank sampah si Repi, Bu Atik selaku Direktur Si Repi menyampaikan kesanggupan untuk bekerjasama dengan bank sampah Dusun Kijon jika disepakati.

 

Solo, 10102018

~Osh~

 

Ketelitian dan Kecermatan Penting Dalam Pencatatan Keuangan

Salah satu indikator sehat tidaknya bisnis adalah ada tidaknya laporan keuangan. Baik bisnis besar, kecil, UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), bahkan tak terkecuali kelompok perempuan yang di dalamnya ada unit-unit usaha yang dikembangkan. sehat tidaknya kelompok tersebut dapat dilihat dari laporan dan pencatatan keuangan unit usahanya.

Hal itupun juga sama berlaku bagi Bank Sampah Si RePi (Resik Nguripi). Dimana salah satu unit usaha atau bentuk layanan yang dimiliki oleh Si RePi yakni tabungan sampah nasabah. Sehingga pencatatan serta laporan keuangan menjadi sebuah kebutuhan wajib yang harus dilakukan oleh Si RePi.

Kenapa pencatatan ini penting, karena pencatatan dan laporan keuangan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban pengurus terhadap para anggota dalam hal ini adalah nasabah Si RePi. Dengan adanya pencatatan serta laporan keuangan yang dibuat secara rapi dan benar, maka akan mempengaruhi kepercayaan nasabah kepada pengurus bank sampah Si RePi.

Adapun pencatatan keuangan sendiri sebaiknya dilakukan setiap hari, sedangkan untuk laporan keuangan bisa bersifat mingguan, ataupun bulanan. Laporan keuangan kelompok bisa berupa neraca keuangan, laporan kas harian, dan laporan Rugi Laba. Sumber utama penyusunan laporan keuangan itu sendiri adalah pencatatan keuangan harian yang tentunya harus secara tertib dilakukan.

Ketika pencatatan harian tidak rutin dan tertib dilakukan maka sudah bisa dipastikan laporan keuangan yang berupa neraca keuangan jelas tidak akan seimbang. Untuk itu, perlu adanya kontrol terhadap kinerja para pengurus, baik dari internal maupun eksternal. Kontrol perlu dilakukan untuk memastikan bahwa setiap transaksi keuangan di dalam kelompok tercatat dengan baik dan tertib. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dalam kelompok bisa diantisipasi.

Hal ini senada dengan yang dilakukan oleh Bank Sampah Si RePi sekarang ini. Setiap sebulan sekali pencatatan keuangan kelompok dibuat neraca keuangan sehingga laporan rugi laba nya pun bisa diketahui. Sekali lagi prasyarat pembuatan laporan keuangan baik neraca maupun laporan rugi laba adalah pencatatan keuangan harian (uang masuk dan keluar) harus benar.

Pada hari Selasa, 2 Oktober 2018 yang lalu, kami selaku pendamping program bank sampah, maka kami melakukan pendampingan kepada pengurus terkhusus bagian pencatatan tabungan nasabah. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk melakukan kroscek pencatatan tabungan sampah nasabah antara pencatatan manual dengan pencatatan komputerisasi.

Hasilnya, ternyata memang masih banyak ditemukan ketidakcocokan antara pencatatan manua dengan pencatatan komputerisasi.

 

Solo, 04102018

~Osh~